KEKAL

Konsep kekekalan jiwa berawal dan dikembangkan dalam agama-agama misteri Yunani kuno, lalu diberi pengertian filosofis di dalam tulisan-tulisan Plato (427-347 SM). Dalam berbagai tulisannya, khususnya Phaedo, Plato mengembangkan konsep bahwa tubuh dan jiwa adalah dua zat yang berbeda: di satu pihak, jiwa yang rasional bersifat ilahi; di lain pihak, karena terbentuk dari materi, tubuh lebih rendah daripada jiwa. Jiwa yang rasional atau nous adalah bagian dari diri manusia yang abadi dan berasal dari “sorga,” yang sebenarnya berada dalam kondisi yang penuh kenikmatan. Saat mengalami kejatuhan, jiwa masuk ke dalam tubuh, dan tinggal di dalam otak manusia. Saat seseorang mati, tubuhnya akan hancur, tetapi nous atau jiwa yang rasional akan kembali ke sorga, jika perbuatan selama hidupnya baik dan terpuji; jika tidak, ia akan masuk kembali ke dalam tubuh manusia lainnya atau hewan. Tetapi pada hakikatnya, jiwa itu bersifat abadi.

Dalam pandangan Plato, prinsip kekekalan jiwa berakar di dalam metafisika yang bersifat rasionalistis: segala sesuatu yang mengandung sifat rasional adalah nyata, dan yang tidak rasional adalah realitas yang sifatnya lebih rendah. Karena itu, jiwa yang bersifat rasional adalah zat yang lebih tinggi daripada tubuh. Ia pada hakikatnya abadi dan tidak dapat binasa, sedangkan tubuh adalah zat yang lebih rendah, fana, dan akan hancur sama sekali. Tidak heran bila kemudian tubuh dianggap sebagai penjara jiwa; sebab jiwa sebenarnya lebih baik jika tanpa tubuh. Dalam sistem pemikiran seperti ini, jelas tidak ada ruang bagi doktrin tentang kebangkitan tubuh.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah Alkitab memang pernah memakai istilah “kekekalan jiwa”? Dan apakah Alkitab juga mengajarkan tentang jiwa manusia yang bersifat kekal?

1 Timotius 6:16  Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorang pun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin

* Yohanes 5:26 , Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri

* 1 Korintus 15:50-54
15:50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.
15:51 Sesungguhnya aku menyatakan kepadamu suatu rahasia: kita tidak akan mati semuanya, tetapi kita semuanya akan diubah,
15:52 dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir. Sebab nafiri akan berbunyi dan orang-orang mati akan dibangkitkan dalam keadaan yang tidak dapat binasa dan kita semua akan diubah.

15:53 , Karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.

15:54 , Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan.

Di sini Paulus berbicara tentang apa yang akan terjadi pada kita ketika Kristus datang kedua kalinya (lihat l Korintus 15:52). Dan katakata ini diterapkan pada transformasi mereka yang masih hidup ketika Kristus kembali dan kebangkitan orang-orang yang telah mati. Sebagaimana telah dikatakan Paulus, karena yang dapat binasa tidak mungkin mendapat bagian dalam apa yang tidak dapat binasa (1 Korintus 15:50), maka harus ada suatu perubahan penyesuaian kondisi yang terjadi.

Perhatikan tiga hal tentang kekekalan yang diajarkan ayat ini:

(1) Kekekalan di sini hanya dikenakan kepada orang-orang beriman – dalam bagian ini Paulus sama sekali tidak menyinggung tentang orang yang tidak percaya.

(2) Kekekalan di sini adalah pemberian yang akan kita terima di masa mendatang. Kekekalan yang sedang dibicarakan oleh Paulus bukanlah sesuatu yang telah kita miliki sekarang, bahkan sekalipun oleh orang-orang beriman; hal itu hanya akan diberikan pada waktu Kristus datang kembali (Parousia).

(3) Kekekalan yang digambarkan di sini bukanlah karakteristik yang hanya dimiliki oleh jiwa, tetapi keseluruhan pribadi secara utuh. Bahkan jika lebih dicermati, kekekalan di sini lebih erat kaitannya dengan tubuh, sebab konteks yang sedang dibicarakan Paulus adalah tentang kebangkitan tubuh. Tidak ada sedikit pun pembicaraan tentang kekekalan roh.

* 1 Petrus 1:3-4
1:3 , Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,

1:4 , untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Alkitab tidak mengajarkan ungkapan “kekekalan jiwa.” Tetapi hal ini masih mengundang pertanyaan, yaitu: Apakah dalam pengertian tertentu Alkitab memang mengajarkan bahwa jiwa manusia itu bersifat kekal?

Beberapa Teolog telah memakai dan mempertahankan ungkapan “kekekalan jiwa,” sebagai konsep yang tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab. John Calvin, misalnya, mengajarkan bahwa Adam memiliki jiwa yang kekal[3], dan berpendapat bahwa kekekalan jiwa sebagai doktrin yang patut diterima. Namun, ia juga mengakui bahwa jiwa tidak memiliki kekekalan secara alamiah, tetapi hal itu diberikan oleh Allah kepada jiwa.

Archibald Alexander Hodge, dalam tulisannya yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1878, memberikan sejumlah argumentasi untuk mempertahankan doktrin tentang kekekalan jiwa. William G.T. Shedd, dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 1889, memakai konsep Hodge untuk mengupas topik: “Keyakinan tentang kekekalan jiwa, dan keberadaannya yang terpisah dari tubuh setelah kematian, merupakan kebenaran yang diajarkan dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru”. Demikian pula, Louis Berkhof berkata bahwa “konsep tentang kekekalan jiwa sarna sekali tidak bertentangan dengan apa yang Alkitab ajarkan tentang manusia … “, ia kemudian melanjutkan dengan berbagai argumentasi, baik dari wahyu umum maupun Alkitab, untuk mendukung konsep tersebut.

Berbeda dengan teolog lainnya, Herman Bavinck bersikap lebih hati-hati dalam membicarakan topik ini. Ia menyebut doktrin kekekalan jiwa sebagai articulus mixtus, kebenaran yang lebih banyak didemonstrasikan dengan akal ketimbang wahyu. Ia menambahkan bahwa di bawah pengaruh Plato, teologi telah berbicara tentang kekekalan jiwa lebih banyak daripada Alkitab sendiri. Lebih lanjut ia berkata, “Alkitab jarang sekali menyebutkan hal ini [kekekalan jiwa]; Alkitab juga tidak pernah secara tegas menyatakan konsep ini sebagai wahyu Allah, dan tidak pemah pula menempatkannya sebagai doktrin yang penting; apalagi berargumentasi atau mempertahankan konsep ini terhadap mereka yang menentangnya”

 

– Bagaimanakah kita harus menilai pandangan beberapa teolog di atas yang jelas-jelas berbeda satu dengan lainnya?

– Apakah kita setuju dengan pendapat bahwa konsep kekekalan jiwa sejalan dengan apa yang Alkitab ajarkan tentang manusia?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, ada beberapa pengamatan yang perlu kita lakukan:

(1) Sebagaimana telah kita lihat, Alkitab tidak menggunakan istilah “kekekalan jiwa”. Alkitab memakai kata kekekalan untuk dikenakan pada: Allah, keberadaan manusia secara utuh pada waktu kebangkitan, dan pada kondisi yang digambarkan sebagai yang tak dapat binasa, atau firman yang tidak fana, tetapi tidak pemah pada jiwa manusia.

(2) Alkitab tidak mengajarkan tentang keabadian jiwa yang didasarkan pada sifat ketidakbinasaan jiwa itu sendiri .Salah satu pendapat filsafat yang sering dipakai untuk membela konsep kekekalan jiwa adalah pengertian bahwa jiwa memiliki atribut kekal pada dirinya sendiri. Kita perlu ingat bahwa pendapat semacam ini lebih banyak dikaitkan dengan pandangan metafisika tentang manusia. Dalam filsafat Plato, misalnya, jiwa atau roh itu dianggap tak dapat binasa karena ia adalah bagian dari realitas metafisika yang lebih tinggi daripada tubuh, sehingga jiwa sering kali dimengerti sebagai yang tidak diciptakan, kekal, dan adalah zat ilahi. Alkitab tidak pemah mengajarkan pengertian tentang jiwa semacam demikian. Sebab, menurut Alkitab, manusia adalah ciptaan Allah yang keberadaannya akan terus bergantung kepada Allah. Kita tidak bisa menunjukkan satu pun aspek dalam diri manusia yang sifatnya tak dapat binasa pada dirinya sendiri.

(3) Alkitab tidak mengajarkan kelangsungan kehidupan sesudah kematian sebagai hal yang paling diinginkan, tetapi menekankan kehidupan di dalam persekutuan dengan Allah sebagai berkat yang terutama. Konsep filsafat tentang kekekalan jiwa tidak berbicara tentang kualitas kehidupan setelah kematian; ia semata-mata menegaskan bahwa jiwa akan tetap ada setelah kematian. Tetapi ini bukan yang Alkitab hendak tegaskan. Yang Alkitab tandaskan ialah bahwa hidup yang terpisah dari Allah adalah kematian, tetapi persekutuan dan kebersamaan dengan Allah adalah hidup yang sebenarnya. Kehidupan semacam ini sudah dinikmati mereka yang beriman di dalam Kristus (Yohanes 3:36; 5:24; 17:3). Sebagaimana diungkapkan oleh Paulus dalam Filipi 1 :21-23 dan 2 Korintus 5: 8, hidup di dalam persekutuan dengan Allah akan tetap dinikmati oleh orang-orang beriman sekalipun mereka telah mati.” Keberadaan semacam ini yang Alkitab ajarkan sebagai tujuan utama yang sepatutnya kita rindukan. Di lain pihak, Alkitab mengajarkan bahwa mereka yang tidak beriman kepada Kristus juga akan tetap ada setelah kematian, tetapi bukan suatu kehidupan yang penuh sukacita, melainkan siksaan dan kesakitan (2 Petrus 2:9; lihat juga Lukas 16:23,25).

Dengan demikian, Alkitab memperkenalkan sebuah dimensi baru dalam pemikiran kita tentang kehidupan di masa yang akan datang. Apa yang penting di sini bukanlah fakta bahwa jiwa akan tetap ada selamanya, melainkan kualitas keberadaan tersebut. Alkitab juga mendorong manusia untuk datang kepada Kristus agar mereka memiliki hidup yang sebenamya dan terhindar dari penghakiman Allah yang akan datang. Lebih jauh Alkitab mengingatkan kita terhadap bahaya konsep “kekekalan jiwa” yang hanya akan membuat kita melupakan keseriusan penghakiman Allah terhadap dosa, atau menyebabkan kita menyangkali kebenaran tentang penghukuman kekal bagi orang-orang berdosa yang tidak bertobat

.KEKAL